Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang sepatutnya seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat energi dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diwujudkan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan lapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai berjenis-jenis pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Sorong, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara nampak demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, kadang kala mesti di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas terlihat seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib seketika dipisahkan, ari-ari yang semestinya langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pertanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malah kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai pedoman atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang seharusnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang bahkan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata betul-betul mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang semacam itu pendiam, tak semacam itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar mulut.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan sepatutnya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dipegang Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, jika lerengnya dijadikan terusan seketika ke Samudra. Melainkan Drona sebetulnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diarahkan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa naik pitam terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang semacam itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan besar kepala, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

3 garwane werkudara, abimanyu iku satriya ing, adine werkudara jenenge, aji aji anoman, aji aji nakula lan sadewa,

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

 

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

Kata Mutiara Werkudara, Jalan Werkudoro Malang, Arti Werkudoro Menurut Islam, Mantra Werkudara, Mahkota Werkudara, Makna Werkudoro, Musuh Werkudara, Makam Werkudara, Werkudoro Maneges Bayu, Werkudara Mati,

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kota Serang, Banten Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

1.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999

ISBN 9799240018, 9789799240019
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

2.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240026, 9789799240026
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

3.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240034, 9789799240033
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

4.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240042, 9789799240040
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

5.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240050, 9789799240057
Tebal 1936 halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

6.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240069, 9789799240064
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima semacam itu mematikan dan benar-benar ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, adakalanya mesti di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila dipandang seksama, bungkus itu terbukti merupakan ari-ari yang semacam itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi patut lantas dipisahkan, ari-ari yang patut langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Pun Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu wajib bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar semacam itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata sungguh-sungguh mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar bahkan jika tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan pongah.

Tetapi jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Yang, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya dijadikan terusan lantas ke Samudra. Melainkan Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan pongah, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, seandainya belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

 

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Bener Meriah, Aceh Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

1.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999

ISBN 9799240018, 9789799240019
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

2.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240026, 9789799240026
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

3.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240034, 9789799240033
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

4.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240042, 9789799240040
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

5.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240050, 9789799240057
Tebal 1936 halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

6.

Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
Penerbit Sena Wangi, 1999
ISBN 9799240069, 9789799240064
Tebal ? halaman
Data di Google Books :

http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

 

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar lazim. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang nampak lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas nampak seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang semacam itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib langsung dipisahkan, ari-ari yang semestinya lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malahan tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malahan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang sepatutnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak seperti itu terampil berkata. Kata-kata yang keluar malah sekiranya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan tinggi hati.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang terpenting bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima via Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, sekiranya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Melainkan Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Maha yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa berang terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang hakekatnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan tinggi hati, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang kala tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat demikian itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang semacam itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang demikian itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tuban, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

Werkudara Muda, Werkudara Meguru Marang, Keris Werkudoro, Keluarga Werkudara, Klinik Werkudoro, Kuku Werkudoro, Karakter Werkudara, Kesaktian Werkudara, Kisah Werkudoro, Werkudoro Kromo,

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Blitar, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya ialah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh hembusan angina, asa Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tetapi, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-naik darah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengetahui jikalau orang tuannya yaitu Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui apabila raksasa hal yang demikian yaitu si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yakni manusia. Batara Guru bahkan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting merupakan anak semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki seluruh atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini adalah si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan melainkan, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, dikala Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Saat sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang sungguh-sungguh memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, muncul lah cita-cita Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, harapan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak cocok dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-geram mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal jikalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui bila raksasa hal yang demikian adalah anaknya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih sering disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yaitu manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yaitu si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki segala atau anak lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini adalah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu mau memakan Pandawa. Akan tapi, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tak berhasil memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu ialah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo