Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Menjadi manusia tidak boleh hanya sekedar numpang hidup, apalagi numpang cari duit. Menjadii manusia harus lah bisa menolong manusia dan makhluk lain. Gusti Allah menginginkan manusia 360 derajat yang bisa berbakti kepada alam dan seisinya. Ini lah bentuk ibadah terbaik.

Sajak Wayang

  Wayang.. Pesona telah pudah di kalangan pemuda Indonesia. Kau telah habis termakan era. Apakah aku akan diam saja?! Aku…

Read More

Bumi Indonesia

Indonesia.. Namamu dulu diberikan oleh salah seorang kaum penjajah kami yang cinta denganmu.. Dari Indian Archipelago menjadi Indonesian, namamu kini…

Read More

Pengabdian (Jangan) Buta

Menjadi seorang abdi seperti menyerahkan jiwa dan raga kepada orang yang kita ikuti. Menjadi seorang abdi harus menjunjung keagungan pimpinan…

Read More

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Simak Tulisan Ki Dalang

Tulisan ini hanya curahan hari seorang dalang yang peduli terhadap sekitar.

  • Masyarakat Basuhan Eromoko Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Watangsono Jatisrono Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Baturetno Baturetno Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Ngaglik Bulukerto Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Selopuro Batuwarno Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Giritontro Giritontro Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Puloharjo Eromoko Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Bero Manyaran Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Tirtosuworo Giriwyoyo Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Purwoharjo Karangtengah Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Tempurharjo Eromoko Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Gemawang Ngadirojo Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Nungkulan Girimarto Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Balepanjang Jatipurno Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Kedungombo Baturetno Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Baleharjo Eromoko Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Sanggrong Jatiroto Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Semen Jatisrono Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Masyarakat Batuwarno Batuwarno Wonogiri Harus Tahu Punakawan

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo yang juga Ketua PRSSNI Meminta Masyarakat Krandegan Bulukerto Wonogiri Harus Tahu Sejarah Punakawan

    * Awal Cerita Punakawan*
    Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

    *Para Tokoh : 1. Semar*
    Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai symbol ke-Esaan.

    *Para Tokoh : 2. Gareng
    Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

    Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

    *Para Tokoh : 3. Petruk*
    *Petruk* digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

    Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

    *Para Tokoh : 4. Bagong*
    *Bagong* adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

    Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

    Masyarakat harus melek cerita rakyat seperti Punakawan. Banyak inspirasi bisa dijadikan teladan.21

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Paser, Kalimantan Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

     

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

    Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

    Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

    Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

    Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

    Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

    Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

    Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

    Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

    Ogoh Ogoh Werkudara, Wayang Orang Werkudara, Werkudara Ora Kelelep Neng Segoro Jalaran Ditulungi, Werkudara Ora Kelelep Ing Segara Jalaran Ditulungi, Dasanama Werkudara, Arti Nama Werkudara, Petruk Ngaku Werkudara, Lagu Werkudoro Ngamuk, Werkudara Nduweni Sipat, Werkudara Nduweni Jeneng Liya Yaiku,

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

    Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

    Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

    Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

    Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

    Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

    Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

    Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

    Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

    Werkudara Nirwana Sakti, Werkudara Nduweni Senjata, Werkudara Duwe Aji Aji Yaiku, Werkudara Nduweni Watak, Werkudara Nama Lain, Werkudara Nduweni Sifat, Werkudoro Nama Lain, Werkudoro Ngamuk, Jl Werkudoro Polehan Malang, Jl Werkudoro Malang,

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Buru, Maluku Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

    Bima ialah putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

    Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu tampak seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya seperti itu tajam, malah lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara semacam itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

    Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang menonjol umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima menonjol demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, adakalanya semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, padahal tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

    Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi semestinya langsung dipisahkan, ari-ari yang wajib lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malahan Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

    Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu sepatutnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

    Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

    Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Si sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang wajib menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

    Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak demikian itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar malah apabila tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan sombong.

    Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa melaksanakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai absensi Sang Pencipta.

    Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Kuasa, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

    Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

    Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, hakekatnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh barokah maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasihat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Ilahi yang Agung.

    Dalam kisah ini malahan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

    Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

    Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam-macam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat dipandang oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

    Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak semacam itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

    Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, kalau belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

    Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menakutkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu demikian itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

    Bima yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

    Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

    Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

    Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang sepatutnya seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

    Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

    Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat energi dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

    Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

    Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

    Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

    Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

    Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

    Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diwujudkan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan lapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

    Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

    Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

    Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai berjenis-jenis pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

    Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

    Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

    Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Sorong, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Bima merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

    Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

    Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara nampak demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, kadang kala mesti di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas terlihat seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

    Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib seketika dipisahkan, ari-ari yang semestinya langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

    Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pertanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

    Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malah kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai pedoman atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

    Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang seharusnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang bahkan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata betul-betul mirip dengan Bratasena.

    Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang semacam itu pendiam, tak semacam itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar mulut.

    Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

    Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

    Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan sepatutnya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dipegang Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

    Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, jika lerengnya dijadikan terusan seketika ke Samudra. Melainkan Drona sebetulnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diarahkan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

    Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

    Werkudara yang sempat merasa naik pitam terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

    Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

    Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang semacam itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan besar kepala, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

    Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

    Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

     

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

    Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

    Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

    Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

    Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

    Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

    Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

    Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

    Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

    Kata Mutiara Werkudara, Jalan Werkudoro Malang, Arti Werkudoro Menurut Islam, Mantra Werkudara, Mahkota Werkudara, Makna Werkudoro, Musuh Werkudara, Makam Werkudara, Werkudoro Maneges Bayu, Werkudara Mati,

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Werkudara yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

    Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima semacam itu mematikan dan benar-benar ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

    Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, adakalanya mesti di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila dipandang seksama, bungkus itu terbukti merupakan ari-ari yang semacam itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

    Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi patut lantas dipisahkan, ari-ari yang patut langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Pun Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

    Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu wajib bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

    Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar semacam itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

    Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata sungguh-sungguh mirip dengan Bratasena.

    Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar bahkan jika tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan pongah.

    Tetapi jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

    Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Yang, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

    Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

    Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya dijadikan terusan lantas ke Samudra. Melainkan Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

    Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

    Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

    Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

    Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan pongah, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

    Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, seandainya belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

    Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

     

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

    Bima yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

    Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

    Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar lazim. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang nampak lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas nampak seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang semacam itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

    Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib langsung dipisahkan, ari-ari yang semestinya lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malahan tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

    Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

    Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malahan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

    Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang sepatutnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

    Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak seperti itu terampil berkata. Kata-kata yang keluar malah sekiranya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan tinggi hati.

    Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang terpenting bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

    Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

    Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

    Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima via Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, sekiranya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Melainkan Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Maha yang Agung.

    Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

    Bima yang sempat merasa berang terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

    Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang hakekatnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

    Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan tinggi hati, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

    Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang kala tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat demikian itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

    Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang semacam itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang demikian itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tuban, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

    Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

    Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

    Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

    Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

    Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

    Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

    Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

    Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

    Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

    Werkudara Muda, Werkudara Meguru Marang, Keris Werkudoro, Keluarga Werkudara, Klinik Werkudoro, Kuku Werkudoro, Karakter Werkudara, Kesaktian Werkudara, Kisah Werkudoro, Werkudoro Kromo,

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kajen Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Blitar Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

    Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Tiap-tiap jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

    Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

    1. Tatahan bubukan
    Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

    2. Tatahan semutdulur
    Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

    3. Tatahan Langgatan
    Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

    4. Tatahan bubukiring
    Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

    5. Tatahan inten-intenan
    Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

    6. Tatahan Langgatbubuk
    Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

    7. Tatahan Sembuliyang
    Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

    8. Tatahan kawatan
    Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

    9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
    Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

    10. Tatahan patran
    Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

    11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
    Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

    12. Tatahan Srunen
    Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

    13. Tatahan Wajikan
    Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

    14. Tatahan mas-masan
    Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

    Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung Mengerti Siapa Batara Kala

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

    Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

    Disebutkan, saat Batara Guru dan istrinya merupakan Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat cantiknya sang surya di atas lautan. Saat sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, ketika itu Batara Guru memperhatikan kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, asa Batara Guru semakin memuncak. Dikala itu, muncul lah asa Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, keinginan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tak cocok dilakukan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

    Air kama Batara Guru yang menetes tadi akibatnya berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal seandainya orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

    Mulanya Batara Guru tidak mengakui apabila raksasa hal yang demikian ialah si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui si kecil dan dikasih nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

    Batara Kala minta makanan ialah manusia. Batara Guru malahan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
    1. Ontang-anting merupakan anak semata wayang atau si kecil yang tak mempunyai saudara.
    2. Pandawa adalah buah hati lima laki-laki segala atau anak lima perempuan semua.
    3. Kedhana kedhini yaitu anak dua, laki-laki den perempuan.

    Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berkeinginan memakan Pandawa. Akan namun, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Maluku Tengah, Maluku Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Sampang, Jawa Timur Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kota Serang, Banten Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

     

    Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Bener Meriah, Aceh Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Mengerti Siapa Batara Kala

    Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Blitar, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

    Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

    Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya ialah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh hembusan angina, asa Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tetapi, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

    Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-naik darah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengetahui jikalau orang tuannya yaitu Batara Guru dan Dewi Uma.

    Mulanya Batara Guru tidak mengakui apabila raksasa hal yang demikian yaitu si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

    Batara Kala meminta makanan yakni manusia. Batara Guru bahkan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
    1. Ontang-anting merupakan anak semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
    2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki seluruh atau si kecil lima perempuan seluruh.
    3. Kedhana kedhini adalah si kecil dua, laki-laki den perempuan.

    Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan melainkan, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Mengerti Siapa Batara Kala

    Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

    Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

    Diceritakan, dikala Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Saat sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang sungguh-sungguh memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, muncul lah cita-cita Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, harapan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak cocok dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

    Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-geram mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal jikalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

    Awalnya Batara Guru tidak mengakui bila raksasa hal yang demikian adalah anaknya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih sering disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

    Batara Kala meminta makanan yaitu manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
    1. Ontang-anting yaitu si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
    2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki segala atau anak lima perempuan segala.
    3. Kedhana kedhini adalah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

    Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu mau memakan Pandawa. Akan tapi, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tak berhasil memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu ialah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kota Kediri, Jawa Timur Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten kapahiang, Bengkulu Mengerti Siapa Batara Kala

    Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

    Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala yakni putra Matahari Hyang Manikmaya yang tak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

    Diceritakan, saat Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang cantiknya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, saat itu Batara Guru memperhatikan kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan mengamati betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tapi, keinginan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

    Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengetahui seandainya orang tuannya ialah Batara Guru dan Dewi Uma.

    Awalnya Batara Guru tidak mengakui jika raksasa hal yang demikian yakni si kecilnya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa tersebut dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

    Batara Kala minta makanan ialah manusia. Batara Guru bahkan mengizinkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
    1. Ontang-anting ialah si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak mempunyai saudara.
    2. Pandawa ialah si kecil lima laki-laki semua atau si kecil lima perempuan segala.
    3. Kedhana kedhini yaitu buah hati dua, laki-laki den perempuan.

    Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berharap memakan Pandawa. Akan tapi, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala senantiasa tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yakni satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kota Pontianak, Kalimantan Barat Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo : Masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat Perlu Mempelajari Ensklopedi Wayang Indonesia

    Ensiklopedi Wayang Indonesia terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( Sena Wangi ).

    1.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: A-B
    Jilid 1 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002
    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999

    ISBN 9799240018, 9789799240019
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=pN9kAAAAMAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    2.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: C-J
    Jilid 2 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240026, 9789799240026
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=5w-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0

    3.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: KLMNP
    Jilid 3 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240034, 9789799240033
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=4zhgGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    4.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: R-S
    Jilid 4 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240042, 9789799240040
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6A-RPAAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=2

    5.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 5 [TUWY dan Lakon]
    Jilid 5 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240050, 9789799240057
    Tebal 1936 halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=6Q-RPAAACAAJ&printsec=frontcover&dq=editions:ISBN9799240069

    6.

    Judul Ensiklopedi wayang Indonesia: jilid 6 [Silsilah, gambar grafis, daftar kepustakaan, & indeks]
    Jilid 6 dari Ensiklopedi wayang Indonesia,ISBN 979924000X, 9789799240002

    Editor Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia
    Penerbit Sena Wangi, 1999
    ISBN 9799240069, 9789799240064
    Tebal ? halaman
    Data di Google Books :

    http://books.google.co.id/books?id=UdwIGQAACAAJ&dq=wayang&lr=&as_drrb_is=q&as_minm_is=0&as_miny_is=&as_maxm_is=0&as_maxy_is=&as_brr=0&source=gbs_book_other_versions_r&cad=5

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cirebon untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Sleman untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Bantul untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Caruban untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Bandung untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

     

    Ketua PRSSNI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Subang untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cilacap untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cilegon untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Wates untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cikarang untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Kebayoran Baru untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

     

    Ketua PRSSNI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Magetan untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Jember untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Banjarnegara untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Pulau Pramuka untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Sidoarjo untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Kuningan untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cibinong untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

  • Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Gresik untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Cakung untuk Memahani Bacaan Ruku, I’tidal, Sujud, Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir

    R U K U’
    SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

    I’TIDAL
    SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
    Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

    RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
    Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    SUJUD
    SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
    Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
    RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

    TASYAHUD AWAL
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

    TASYAHUD AKHIR
    ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
    Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

    ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
    Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

    ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
    Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

    ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
    Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

    ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

    KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
    Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

    KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
    Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

    FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
    Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.

    Salam,

    Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo