Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang sepatutnya seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat energi dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diwujudkan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan lapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai berjenis-jenis pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo