Ketua PRSSNI Ki Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Masyarakat Pasuruan untuk Memahani Tentang Kesetiaan yang Salah Karna

 

Mengabdi pada pilihan yang tidak baik? Mungkin Anda bukan salah 1 orang atau orang yang pertama melakukannya. Diceritakan, di dunia perwayangan, ada seorang jagoan perang bernama Karna yang memberikan loyalitas pada kubu yang selalu bertindak sesat, yaitu Kurawa.

Karna sebenarnya berasal dari kubu Pandawa sebab dia adalah anak dari Dewi Kunti. Dengan kata lain, Karna sebenarnya anak Dewi Kunti paling sulung karena dilahirkan (secara tidak sah atau di luar nikah) lebih dulu daripada Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Karna lahir akibat Dewi Kunti memakai ajian untuk bertemu Dewa Matahari atau Batara Surya dan meminta berkah. Oleh Batara Surya pun, dia diberi berkah anak, Karna, yang dilahirkan dari telinga untuk menjaga keperawanan Dewi Kunti. Dewi Kunti yang tidak ingin mendapat aib dan gunjingan sosial membuang Karna. Karna dibuang oleh Dewi Kunti ke sungai dan ditemukan Prabu Radeya lalu dibesarkan oleh Prabu Adirata di Kerajaan Astinapura. Di lingkungan ini, Karna menjadi seorang kesatria.

Saat mengikuti kontes memanah yang diadakan oleh padepokan Guru Dorna antara Pandawa dan Kurawa muda, Karna berhasil memenangkan pertandingan melawan Arjuna yang saat itu menjadi kesatria paling tangguh dari kubu Pandawa. Prabu Dorna tidak memenangkan Karna karena bukan dari kalangan kerajaan. Duryudana yang melihat potensi Karna langsung menjadikannya panglima perang dan kemudian memberikan tahta raja kepadanya. Di sini lah semua kesetiaan yang salah semakin membesar dan menghilangkan apa yang seharusnya menjadi baik di diri Karna. Duryudana adalah pihak yang memicu perang saudara antara Pandawa dan Kurawa.

Karna sesungguhnya pernah berusaha dibujuk untuk pindah haluan oleh Prabu Kresna dan Dewi Kunti yang diatur dalam sebuah pertemuan rahasia tanpa diketahui semua pihak. Sayangnya, Karna yang memang seorang kesatria sudah disumpah untuk setia pada negara Astina Kurawa tidak bisa kembali ke Pandawa. Namun, Karna berjanji kepada Dewi Kunti untuk tidak membunuh kelima saudara mereka di Pandawa dengan panah Kunta yang diberikan oleh Batara Narada.

Sampai dewasa dan berulang kali teribat perang, Pandawa bersaudara tidak pernah mengetahui bahwa Karna kakak sulung mereka. Dewi Kunti sengaja tidak mau menceritakan untuk menghindari perpecahan di internal Pandawa sendiri sampai pada akhirnya kisah Karna dibuka setelah Pandawa menewaskannya. Karna berhasil membunuh Gatotkaca dalam perang Bharatayuda. Dia tewas di tangan Arjuna saat duel satu lawan satu. Pandawa lima baru mengetahui setelah pemakaman Karna dan berakhirnya perang setelah diberi tahu Dewi Kunti, ibu mereka.

Dari Karna, kita bisa belajar bahwa kita bisa saja berada di pihak yang salah dalam kehidupan. Namun, kita punya kesempatan untuk mengubahnya. Tentu dalam pengambilan keputusan untuk berubah pihak ada konsekuensi di mana kita bisa saja mengecewakan pihak yang sudah berinvestasi ilmu dan materi lainnya dalam membesarkan kita. Itu lah yang menjadi alasan mengapa Karna tidak mau mengingkari pilihannya yang salah karena dia merasa sudah dibesarkan oleh kubu Kurawa.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo