Mitos Seram Saat Gerhana Bulan, Salah Satunya Munculnya Batara Kala

Gerhana bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan.

Disadur dari berbagai sumber, berikut telah dirangkum beberapa mitos populer terkait Gerhana Bulan.

1. Bulan versus Matahari
Jarita Holbrook, astronom budaya di Universitas Western Cape di Bellville, Afrika Selatan mengatakan:
“Mitos favorit saya berasal dari orang Batammaliba di Togo dan Benin di Afrika,” katanya.
Dalam mitos itu, matahari dan bulan bertempur selama gerhana, dan orang-orang mendorong mereka untuk berhenti.

2. Kemunculan Naga
Orang-orang Tiongkok percaya bahwa seekor naga raksasa tengah menelan bulan pada saat gerhana.
Untuk menakuti-nakuti sang naga, orang dewasa akan menyembunyikan petasan untuk mengusir naga tersebut.

3. Serangan terhadap Raja Bumi
Menurut E. C. Krupp, direktur Observatorium Griffith di Los Angeles, California, zaman kuno menyakini apa yang terjadi di bulan mempengaruhi Bumi.
Dalam budaya Mesopotamia, orang-orang memandang gerhanabulan sebagai serangan terhadap raja mereka.
“Untuk mengantisipasi gerhana, mereka akan memasang seorang raja pengganti yang akan menanggung risiko serangan apa pun.”
“Dia akan diperlakukan dengan baik layaknya raja. Sementara itu, raja yang sebenarnya berpura-pura menjadi seorang warga biasa.”
“Begitu gerhana bulan itu usai, pengganti raja biasanya lenyap begitu saja.”
Krupp menyebutkan kemungkinan pengganti raja itu telah dibunuh atau diracun.

4. Bulan Dimakan Batara Kala
Di Indonesia, tepatnya di Bali, pada saat gerhana, dipercaya bahwa matahari atau bulan tengah dimakan raksasa yang tengah marah.
Begitu pula di beberapa daerah di Jawa hingga kini.
Gerhana bulan merupakan pertanda datangnya Batara Kala dan gelapnya bulan adalah pertanda raksasa sedang memakannya.
Untuk mengusir sang raksasa, warga akan menabuh lumpang (tempat penumbuk dari besi) dengan harapan suara tersebut menakuti Batara Kala.

5. Orang Hamil harus waspada
Para wanita hamil mengolesi perut mereka dengan abu sisa pembakaran dengan harapan anak yang dikandung tidak dimakan sang raksasa.
Wanita yang tengah hamil diharuskan berada di dalam rumah selama gerhana berlangsung.
Jika wanita hamil keluar rumah saat gerhana maka saat lahir anaknya akan lahir buta atau memiliki bibir sumbing.

Salam sukses,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Batara Kala Punya Mustika Sakti

 

BATARA KALA adalah putra yang ke-enam/putra bungsu Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, karena ia tercipta dari “kama salah” Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke dalam samodra dan menjelma menjadi bayi rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya masing-masing bernama; Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.
Bathara Kala bertempat tinggal di Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa makhluk siluman yang berkahyangan di Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut Bathara Kala memperoleh lima orang putra masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.
Bathara Kala sangat sakti sejak bayi. Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya bisa ditaklukan oleh Sanghyang Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua taringnya dipotong, yang kanan menjadi keris Kalanadah dan yang kiri menjadi keris Kaladite. Selain Sanghyang Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang dapat mengalahkan Bathara Kala.
Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu dan tak pernah mulai mengadakan persoalan ataupun peperangan. Ia kerap kali bertindak salah tetapi tidak disengaja, hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala akan membela diri dan haknya apabila diserang atau dianiaya. Membunuh makhluk lain tidak untuk kesenangan, tetapi karena kebutuhan untuk membela kehidupan. Bathara kala lazim dipergunakan sebagai lambang keangkaramurkaan.

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Batari Uma menyebut sang suami telah kehilangan sopan santun, tak ubahnya perangai raksasa. Seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru. Batara Guru merasa sangat marah karena malu. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.

Air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Banyak ikan-ikan yang mati karenanya. Lambat laun, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru yang telah sampai di kahyangan segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa. Raksasa itu mengamuk, menyerang para dewa. Para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah. Sampailah ia dihadapan Batara Guru. Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru yang mengaku sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum pertanyaan dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.

Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut. Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru merasa malu dan meluapkan kekesalannya kepada Batari Uma. Bangkit pula amarahnya karena telah dikutuk oleh Batari Uma, sehingga ia memiliki taring. Batari Uma dihajarnya hingga menangis menjerit-jerit dengan kerasnya. Batara Guru pun menyebut istrinya bersuara seperti raksasi. Seketika itu pula Batari Uma berubah wujud menjadi raksasi. Terkejutlah Batara Guru, ia menyesal. Lalu ia berkata bahwa meski Batari Uma telah berubah wujud, ia tetap mengakui sebagai istrinya. Ia memberikan daerah Setra Gandamayit sebagai tempat tinggal Batari Uma, dan mempersilahkan istrinya itu datang ke kahyangan kapan pun ia mau. Batari Uma pun berganti nama menjadi Batari Durga dan membangun kahyangan di Setra Gandamayit yang diberi nama Kahyangan Dandang Mangore.

Sepeninggal Batari Durga, Batara Guru pergi menemui mertuanya yaitu Sodagar Umaran; untuk mencarikan isteri yang mirip dengan Batari Uma. Sodagar Umaran sangat bingung. Ia pun bersamadi mengheningkan cipta memohon petunjuk Tuhan demi memenuhi permintaan Batara Guru. Sanghyang Padawenang pun muncul untuk menolong Sodagar Umaran. Ia menciptakan seorang perempuan dari buah ranti yang tumbuh di halaman rumah Umaran. Buah tersebut menjadi seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Batari Uma. Sodagar Umaran pun berterimakasih dan memberi nama wanita itu Dewi Umaranti.

Sodagar Umaran kemudian membawa Dewi Umaranti menemui Batara Guru di Kahyangan Arga Dumilah. Batara Guru berkenan menerima Dewi Umaranti sebagai isterinya. Karena wajahnya mirip, Umaranti pun diganti namanya menjadi Batari Uma.

Mustika Batara Kala

 

BATARA KALA adalah putra yang ke-enam/putra bungsu Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, karena ia tercipta dari “kama salah” Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke dalam samodra dan menjelma menjadi bayi rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya masing-masing bernama; Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.
Bathara Kala bertempat tinggal di Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa makhluk siluman yang berkahyangan di Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut Bathara Kala memperoleh lima orang putra masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.
Bathara Kala sangat sakti sejak bayi. Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya bisa ditaklukan oleh Sanghyang Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua taringnya dipotong, yang kanan menjadi keris Kalanadah dan yang kiri menjadi keris Kaladite. Selain Sanghyang Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang dapat mengalahkan Bathara Kala.
Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu dan tak pernah mulai mengadakan persoalan ataupun peperangan. Ia kerap kali bertindak salah tetapi tidak disengaja, hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala akan membela diri dan haknya apabila diserang atau dianiaya. Membunuh makhluk lain tidak untuk kesenangan, tetapi karena kebutuhan untuk membela kehidupan. Bathara kala lazim dipergunakan sebagai lambang keangkaramurkaan.

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Batari Uma menyebut sang suami telah kehilangan sopan santun, tak ubahnya perangai raksasa. Seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru. Batara Guru merasa sangat marah karena malu. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.

Air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Banyak ikan-ikan yang mati karenanya. Lambat laun, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru yang telah sampai di kahyangan segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa. Raksasa itu mengamuk, menyerang para dewa. Para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah. Sampailah ia dihadapan Batara Guru. Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru yang mengaku sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum pertanyaan dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.

Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut. Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru merasa malu dan meluapkan kekesalannya kepada Batari Uma. Bangkit pula amarahnya karena telah dikutuk oleh Batari Uma, sehingga ia memiliki taring. Batari Uma dihajarnya hingga menangis menjerit-jerit dengan kerasnya. Batara Guru pun menyebut istrinya bersuara seperti raksasi. Seketika itu pula Batari Uma berubah wujud menjadi raksasi. Terkejutlah Batara Guru, ia menyesal. Lalu ia berkata bahwa meski Batari Uma telah berubah wujud, ia tetap mengakui sebagai istrinya. Ia memberikan daerah Setra Gandamayit sebagai tempat tinggal Batari Uma, dan mempersilahkan istrinya itu datang ke kahyangan kapan pun ia mau. Batari Uma pun berganti nama menjadi Batari Durga dan membangun kahyangan di Setra Gandamayit yang diberi nama Kahyangan Dandang Mangore.

Sepeninggal Batari Durga, Batara Guru pergi menemui mertuanya yaitu Sodagar Umaran; untuk mencarikan isteri yang mirip dengan Batari Uma. Sodagar Umaran sangat bingung. Ia pun bersamadi mengheningkan cipta memohon petunjuk Tuhan demi memenuhi permintaan Batara Guru. Sanghyang Padawenang pun muncul untuk menolong Sodagar Umaran. Ia menciptakan seorang perempuan dari buah ranti yang tumbuh di halaman rumah Umaran. Buah tersebut menjadi seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Batari Uma. Sodagar Umaran pun berterimakasih dan memberi nama wanita itu Dewi Umaranti.

Sodagar Umaran kemudian membawa Dewi Umaranti menemui Batara Guru di Kahyangan Arga Dumilah. Batara Guru berkenan menerima Dewi Umaranti sebagai isterinya. Karena wajahnya mirip, Umaranti pun diganti namanya menjadi Batari Uma.

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Paser, Kalimantan Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

 

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

Ogoh Ogoh Werkudara, Wayang Orang Werkudara, Werkudara Ora Kelelep Neng Segoro Jalaran Ditulungi, Werkudara Ora Kelelep Ing Segara Jalaran Ditulungi, Dasanama Werkudara, Arti Nama Werkudara, Petruk Ngaku Werkudara, Lagu Werkudoro Ngamuk, Werkudara Nduweni Sipat, Werkudara Nduweni Jeneng Liya Yaiku,

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

Werkudara Nirwana Sakti, Werkudara Nduweni Senjata, Werkudara Duwe Aji Aji Yaiku, Werkudara Nduweni Watak, Werkudara Nama Lain, Werkudara Nduweni Sifat, Werkudoro Nama Lain, Werkudoro Ngamuk, Jl Werkudoro Polehan Malang, Jl Werkudoro Malang,

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Buru, Maluku Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima ialah putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu tampak seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya seperti itu tajam, malah lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara semacam itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang menonjol umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima menonjol demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, adakalanya semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, padahal tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi semestinya langsung dipisahkan, ari-ari yang wajib lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malahan Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu sepatutnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Si sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang wajib menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak demikian itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar malah apabila tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan sombong.

Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa melaksanakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai absensi Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Kuasa, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, hakekatnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh barokah maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasihat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Ilahi yang Agung.

Dalam kisah ini malahan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam-macam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat dipandang oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak semacam itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, kalau belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menakutkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu demikian itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang sepatutnya seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat energi dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diwujudkan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan lapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai berjenis-jenis pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Sorong, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara nampak demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, kadang kala mesti di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas terlihat seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib seketika dipisahkan, ari-ari yang semestinya langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pertanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malah kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai pedoman atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang seharusnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang bahkan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata betul-betul mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang semacam itu pendiam, tak semacam itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar mulut.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan sepatutnya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dipegang Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, jika lerengnya dijadikan terusan seketika ke Samudra. Melainkan Drona sebetulnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diarahkan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa naik pitam terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang semacam itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan besar kepala, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

3 garwane werkudara, abimanyu iku satriya ing, adine werkudara jenenge, aji aji anoman, aji aji nakula lan sadewa,

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

 

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Harus Tahu Eufimisme dan Werkudoro

Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Arjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Oleh karena itu, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini.

Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras, mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu. Di Solo dan Yogyajarta ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan seram, terkesan memberikan pengakuan abadi untuk tiap orang yang berprofesi sebagai guru. Namun, jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa guru disuruh makan gelar saja? Jika diperlakukan seperti itu, semua guru se-Indonesia bisa mengumpat dan mogok kerja. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

Kata Mutiara Werkudara, Jalan Werkudoro Malang, Arti Werkudoro Menurut Islam, Mantra Werkudara, Mahkota Werkudara, Makna Werkudoro, Musuh Werkudara, Makam Werkudara, Werkudoro Maneges Bayu, Werkudara Mati,

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima semacam itu mematikan dan benar-benar ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, adakalanya mesti di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila dipandang seksama, bungkus itu terbukti merupakan ari-ari yang semacam itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi patut lantas dipisahkan, ari-ari yang patut langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Pun Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu wajib bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar semacam itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata sungguh-sungguh mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar bahkan jika tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan pongah.

Tetapi jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Yang, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya dijadikan terusan lantas ke Samudra. Melainkan Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan pongah, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, seandainya belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo