Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Surya Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, ketika Batara Guru dan istrinya merupakan Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang cantiknya sang surya di atas lautan. Dikala matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, ketika itu Batara Guru mengamati kecantikan yang benar-benar memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh hembusan angina, hasrat Batara Guru semakin memuncak. Ketika itu, timbul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, keinginan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak layak dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang angker dan menggeram-naik pitam mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal jikalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui sekiranya raksasa hal yang demikian ialah anaknya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya merupakan Dewi Uma atau lebih sering disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan merupakan manusia. Batara Guru bahkan membolehkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting adalah anak semata wayang atau buah hati yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa ialah anak lima laki-laki semua atau anak lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini ialah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala patut mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa mau memakan Pandawa. Akan melainkan, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yakni Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu adalah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo