Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Tarakan, Kalimantan Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yakni putra Surya Hyang Manikmaya yang tak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil mengamati menawannya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, saat itu Batara Guru memandang kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tapi, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak sesuai dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akibatnya berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-geram mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal kalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui jika raksasa tersebut yaitu anaknya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa tersebut dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui buah hati dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan merupakan manusia. Batara Guru malah membiarkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting merupakan buah hati semata wayang atau anak yang tidak mempunyai saudara.
2. Pandawa merupakan anak lima laki-laki segala atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini yakni anak dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala patut mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa mau memakan Pandawa. Akan tapi, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yakni Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tak berhasil memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu ialah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo