Mitos Seram Saat Gerhana Bulan, Salah Satunya Munculnya Batara Kala

Gerhana bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan.

Disadur dari berbagai sumber, berikut telah dirangkum beberapa mitos populer terkait Gerhana Bulan.

1. Bulan versus Matahari
Jarita Holbrook, astronom budaya di Universitas Western Cape di Bellville, Afrika Selatan mengatakan:
“Mitos favorit saya berasal dari orang Batammaliba di Togo dan Benin di Afrika,” katanya.
Dalam mitos itu, matahari dan bulan bertempur selama gerhana, dan orang-orang mendorong mereka untuk berhenti.

2. Kemunculan Naga
Orang-orang Tiongkok percaya bahwa seekor naga raksasa tengah menelan bulan pada saat gerhana.
Untuk menakuti-nakuti sang naga, orang dewasa akan menyembunyikan petasan untuk mengusir naga tersebut.

3. Serangan terhadap Raja Bumi
Menurut E. C. Krupp, direktur Observatorium Griffith di Los Angeles, California, zaman kuno menyakini apa yang terjadi di bulan mempengaruhi Bumi.
Dalam budaya Mesopotamia, orang-orang memandang gerhanabulan sebagai serangan terhadap raja mereka.
“Untuk mengantisipasi gerhana, mereka akan memasang seorang raja pengganti yang akan menanggung risiko serangan apa pun.”
“Dia akan diperlakukan dengan baik layaknya raja. Sementara itu, raja yang sebenarnya berpura-pura menjadi seorang warga biasa.”
“Begitu gerhana bulan itu usai, pengganti raja biasanya lenyap begitu saja.”
Krupp menyebutkan kemungkinan pengganti raja itu telah dibunuh atau diracun.

4. Bulan Dimakan Batara Kala
Di Indonesia, tepatnya di Bali, pada saat gerhana, dipercaya bahwa matahari atau bulan tengah dimakan raksasa yang tengah marah.
Begitu pula di beberapa daerah di Jawa hingga kini.
Gerhana bulan merupakan pertanda datangnya Batara Kala dan gelapnya bulan adalah pertanda raksasa sedang memakannya.
Untuk mengusir sang raksasa, warga akan menabuh lumpang (tempat penumbuk dari besi) dengan harapan suara tersebut menakuti Batara Kala.

5. Orang Hamil harus waspada
Para wanita hamil mengolesi perut mereka dengan abu sisa pembakaran dengan harapan anak yang dikandung tidak dimakan sang raksasa.
Wanita yang tengah hamil diharuskan berada di dalam rumah selama gerhana berlangsung.
Jika wanita hamil keluar rumah saat gerhana maka saat lahir anaknya akan lahir buta atau memiliki bibir sumbing.

Salam sukses,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Batara Kala Punya Mustika Sakti

 

BATARA KALA adalah putra yang ke-enam/putra bungsu Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, karena ia tercipta dari “kama salah” Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke dalam samodra dan menjelma menjadi bayi rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya masing-masing bernama; Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.
Bathara Kala bertempat tinggal di Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa makhluk siluman yang berkahyangan di Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut Bathara Kala memperoleh lima orang putra masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.
Bathara Kala sangat sakti sejak bayi. Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya bisa ditaklukan oleh Sanghyang Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua taringnya dipotong, yang kanan menjadi keris Kalanadah dan yang kiri menjadi keris Kaladite. Selain Sanghyang Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang dapat mengalahkan Bathara Kala.
Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu dan tak pernah mulai mengadakan persoalan ataupun peperangan. Ia kerap kali bertindak salah tetapi tidak disengaja, hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala akan membela diri dan haknya apabila diserang atau dianiaya. Membunuh makhluk lain tidak untuk kesenangan, tetapi karena kebutuhan untuk membela kehidupan. Bathara kala lazim dipergunakan sebagai lambang keangkaramurkaan.

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Batari Uma menyebut sang suami telah kehilangan sopan santun, tak ubahnya perangai raksasa. Seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru. Batara Guru merasa sangat marah karena malu. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.

Air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Banyak ikan-ikan yang mati karenanya. Lambat laun, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru yang telah sampai di kahyangan segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa. Raksasa itu mengamuk, menyerang para dewa. Para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah. Sampailah ia dihadapan Batara Guru. Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru yang mengaku sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum pertanyaan dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.

Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut. Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru merasa malu dan meluapkan kekesalannya kepada Batari Uma. Bangkit pula amarahnya karena telah dikutuk oleh Batari Uma, sehingga ia memiliki taring. Batari Uma dihajarnya hingga menangis menjerit-jerit dengan kerasnya. Batara Guru pun menyebut istrinya bersuara seperti raksasi. Seketika itu pula Batari Uma berubah wujud menjadi raksasi. Terkejutlah Batara Guru, ia menyesal. Lalu ia berkata bahwa meski Batari Uma telah berubah wujud, ia tetap mengakui sebagai istrinya. Ia memberikan daerah Setra Gandamayit sebagai tempat tinggal Batari Uma, dan mempersilahkan istrinya itu datang ke kahyangan kapan pun ia mau. Batari Uma pun berganti nama menjadi Batari Durga dan membangun kahyangan di Setra Gandamayit yang diberi nama Kahyangan Dandang Mangore.

Sepeninggal Batari Durga, Batara Guru pergi menemui mertuanya yaitu Sodagar Umaran; untuk mencarikan isteri yang mirip dengan Batari Uma. Sodagar Umaran sangat bingung. Ia pun bersamadi mengheningkan cipta memohon petunjuk Tuhan demi memenuhi permintaan Batara Guru. Sanghyang Padawenang pun muncul untuk menolong Sodagar Umaran. Ia menciptakan seorang perempuan dari buah ranti yang tumbuh di halaman rumah Umaran. Buah tersebut menjadi seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Batari Uma. Sodagar Umaran pun berterimakasih dan memberi nama wanita itu Dewi Umaranti.

Sodagar Umaran kemudian membawa Dewi Umaranti menemui Batara Guru di Kahyangan Arga Dumilah. Batara Guru berkenan menerima Dewi Umaranti sebagai isterinya. Karena wajahnya mirip, Umaranti pun diganti namanya menjadi Batari Uma.

Mustika Batara Kala

 

BATARA KALA adalah putra yang ke-enam/putra bungsu Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, karena ia tercipta dari “kama salah” Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke dalam samodra dan menjelma menjadi bayi rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya masing-masing bernama; Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.
Bathara Kala bertempat tinggal di Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa makhluk siluman yang berkahyangan di Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut Bathara Kala memperoleh lima orang putra masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.
Bathara Kala sangat sakti sejak bayi. Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya bisa ditaklukan oleh Sanghyang Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua taringnya dipotong, yang kanan menjadi keris Kalanadah dan yang kiri menjadi keris Kaladite. Selain Sanghyang Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang dapat mengalahkan Bathara Kala.
Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu dan tak pernah mulai mengadakan persoalan ataupun peperangan. Ia kerap kali bertindak salah tetapi tidak disengaja, hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala akan membela diri dan haknya apabila diserang atau dianiaya. Membunuh makhluk lain tidak untuk kesenangan, tetapi karena kebutuhan untuk membela kehidupan. Bathara kala lazim dipergunakan sebagai lambang keangkaramurkaan.

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Batari Uma menyebut sang suami telah kehilangan sopan santun, tak ubahnya perangai raksasa. Seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru. Batara Guru merasa sangat marah karena malu. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.

Air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Banyak ikan-ikan yang mati karenanya. Lambat laun, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru yang telah sampai di kahyangan segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa. Raksasa itu mengamuk, menyerang para dewa. Para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah. Sampailah ia dihadapan Batara Guru. Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru yang mengaku sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum pertanyaan dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.

Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut. Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru merasa malu dan meluapkan kekesalannya kepada Batari Uma. Bangkit pula amarahnya karena telah dikutuk oleh Batari Uma, sehingga ia memiliki taring. Batari Uma dihajarnya hingga menangis menjerit-jerit dengan kerasnya. Batara Guru pun menyebut istrinya bersuara seperti raksasi. Seketika itu pula Batari Uma berubah wujud menjadi raksasi. Terkejutlah Batara Guru, ia menyesal. Lalu ia berkata bahwa meski Batari Uma telah berubah wujud, ia tetap mengakui sebagai istrinya. Ia memberikan daerah Setra Gandamayit sebagai tempat tinggal Batari Uma, dan mempersilahkan istrinya itu datang ke kahyangan kapan pun ia mau. Batari Uma pun berganti nama menjadi Batari Durga dan membangun kahyangan di Setra Gandamayit yang diberi nama Kahyangan Dandang Mangore.

Sepeninggal Batari Durga, Batara Guru pergi menemui mertuanya yaitu Sodagar Umaran; untuk mencarikan isteri yang mirip dengan Batari Uma. Sodagar Umaran sangat bingung. Ia pun bersamadi mengheningkan cipta memohon petunjuk Tuhan demi memenuhi permintaan Batara Guru. Sanghyang Padawenang pun muncul untuk menolong Sodagar Umaran. Ia menciptakan seorang perempuan dari buah ranti yang tumbuh di halaman rumah Umaran. Buah tersebut menjadi seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Batari Uma. Sodagar Umaran pun berterimakasih dan memberi nama wanita itu Dewi Umaranti.

Sodagar Umaran kemudian membawa Dewi Umaranti menemui Batara Guru di Kahyangan Arga Dumilah. Batara Guru berkenan menerima Dewi Umaranti sebagai isterinya. Karena wajahnya mirip, Umaranti pun diganti namanya menjadi Batari Uma.

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung Mengerti Siapa Batara Kala

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, saat Batara Guru dan istrinya merupakan Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat cantiknya sang surya di atas lautan. Saat sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, ketika itu Batara Guru memperhatikan kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, asa Batara Guru semakin memuncak. Dikala itu, muncul lah asa Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, keinginan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tak cocok dilakukan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akibatnya berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal seandainya orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui apabila raksasa hal yang demikian ialah si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui si kecil dan dikasih nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan ialah manusia. Batara Guru malahan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting merupakan anak semata wayang atau si kecil yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa adalah buah hati lima laki-laki segala atau anak lima perempuan semua.
3. Kedhana kedhini yaitu anak dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berkeinginan memakan Pandawa. Akan namun, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Blitar, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya ialah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh hembusan angina, asa Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tetapi, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-naik darah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengetahui jikalau orang tuannya yaitu Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui apabila raksasa hal yang demikian yaitu si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yakni manusia. Batara Guru bahkan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting merupakan anak semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki seluruh atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini adalah si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan melainkan, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, dikala Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat indahnya sang surya di atas lautan. Saat sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang sungguh-sungguh memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, muncul lah cita-cita Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, harapan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak cocok dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-geram mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal jikalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui bila raksasa hal yang demikian adalah anaknya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih sering disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yaitu manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yaitu si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki segala atau anak lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini adalah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu mau memakan Pandawa. Akan tapi, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tak berhasil memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu ialah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten kapahiang, Bengkulu Mengerti Siapa Batara Kala

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala yakni putra Matahari Hyang Manikmaya yang tak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, saat Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang cantiknya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, saat itu Batara Guru memperhatikan kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan mengamati betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tapi, keinginan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi hasilnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengetahui seandainya orang tuannya ialah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui jika raksasa hal yang demikian yakni si kecilnya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa tersebut dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan ialah manusia. Batara Guru bahkan mengizinkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting ialah si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak mempunyai saudara.
2. Pandawa ialah si kecil lima laki-laki semua atau si kecil lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini yaitu buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berharap memakan Pandawa. Akan tapi, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala senantiasa tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yakni satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala merupakan putra Matahari Hyang Manikmaya yang tak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, ketika Batara Guru dan istrinya yaitu Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil mengamati cantiknya sang surya di atas lautan. Saat matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, saat itu Batara Guru memandang kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, muncul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, keinginan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tak layak dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi kesudahannya berubah menjadi seorang raksasa yang menyeramkan dan menggeram-naik darah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pertanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal bila orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui jikalau raksasa hal yang demikian yaitu anaknya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih acap kali disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui buah hati dan dikasih nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yakni manusia. Batara Guru pun mengizinkan Batara Kala memakan manusia dengan ketetapan:
1. Ontang-anting yaitu si kecil semata wayang atau anak yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa merupakan anak lima laki-laki segala atau anak lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini yaitu buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala mesti mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu mau memakan Pandawa. Akan tetapi, sebab Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu adalah satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Parepare, Sulawesi Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

 

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Bekasi, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala merupakan putra Surya Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, saat Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat menawannya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang benar-benar memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan mengamati betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh hembusan angina, cita-cita Batara Guru semakin memuncak. Ketika itu, muncul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tetapi, kemauan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak layak dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akhirnya berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-naik darah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas tanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal apabila orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tak mengakui seandainya raksasa tersebut yaitu si kecilnya. Batara Guru khawatir akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui buah hati dan diberi nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan adalah manusia. Batara Guru malahan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketetapan:
1. Ontang-anting ialah si kecil semata wayang atau anak yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa yaitu anak lima laki-laki seluruh atau buah hati lima perempuan semua.
3. Kedhana kedhini yaitu si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berharap memakan Pandawa. Akan tapi, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu ialah Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tak berhasil memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Lumajang, Jawa Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Matahari Hyang Manikmaya yang tidak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, saat Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memperhatikan menawannya sang surya di atas lautan. Saat matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, ketika itu Batara Guru mengamati kecantikan yang amat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh hembusan angina, asa Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, timbul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, harapan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak sesuai dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-murka mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengetahui sekiranya orang tuannya ialah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui sekiranya raksasa hal yang demikian ialah si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya yakni Dewi Uma atau lebih sering kali disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui si kecil dan dikasih nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan ialah manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting adalah si kecil semata wayang atau si kecil yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa yaitu buah hati lima laki-laki segala atau anak lima perempuan semua.
3. Kedhana kedhini adalah anak dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala wajib mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan tetapi, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yakni Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo