Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Sibolga, Sumatera Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala ialah putra Matahari Hyang Manikmaya yang tak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, dikala Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang menawannya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, ketika itu Batara Guru memandang kecantikan yang sungguh-sungguh memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru semakin memuncak. Dikala itu, timbul lah asa Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tapi, keinginan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak cocok dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akhirnya berubah menjadi seorang raksasa yang menyeramkan dan menggeram-naik pitam mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pertanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal apabila orang tuannya yaitu Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui jika raksasa hal yang demikian ialah anaknya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa tersebut dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih sering kali disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan dikasih nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan yaitu manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketetapan:
1. Ontang-anting ialah si kecil semata wayang atau anak yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa merupakan buah hati lima laki-laki seluruh atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini merupakan anak dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala mesti mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berharap memakan Pandawa. Akan tapi, sebab Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala senantiasa tak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu adalah satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yakni putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, saat Batara Guru dan istrinya adalah Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang cantiknya matahari di atas lautan. Dikala sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, saat itu Batara Guru melihat kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, asa Batara Guru semakin memuncak. Ketika itu, muncul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, harapan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak pantas dilaksanakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi walhasil berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-murka mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal jika orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tak mengakui apabila raksasa hal yang demikian yaitu si kecilnya. Batara Guru kuatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya adalah Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui buah hati dan diberikan nama Batara Kala dan dikasih kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan adalah manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketetapan:
1. Ontang-anting yaitu anak semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa ialah buah hati lima laki-laki semua atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini merupakan anak dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala mesti mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu ingin memakan Pandawa. Akan namun, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tidak berhasil memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yakni satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Sang Hyang Manikmaya yang tak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, saat Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang indahnya matahari di atas lautan. Dikala sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, ketika itu Batara Guru memandang kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru kian memuncak. Dikala itu, timbul lah asa Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan tapi, harapan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak sesuai dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi kesudahannya berubah menjadi seorang raksasa yang menakutkan dan menggeram-geram mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengetahui sekiranya orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui bila raksasa tersebut yaitu si kecilnya. Batara Guru kuatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya merupakan Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui buah hati dan diberi nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan adalah manusia. Batara Guru pun mengizinkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yaitu anak semata wayang atau buah hati yang tak memiliki saudara.
2. Pandawa ialah anak lima laki-laki segala atau anak lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini yaitu buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala wajib mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berharap memakan Pandawa. Akan tetapi, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu ialah Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tidak berhasil memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu ialah satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kaur, Bengkulu Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala ialah putra Sang Hyang Manikmaya yang tak diharapkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, ketika Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil mengamati indahnya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, dikala itu Batara Guru melihat kecantikan yang sangat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, cita-cita Batara Guru semakin memuncak. Dikala itu, muncul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak pantas dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab keinginannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi walhasil berubah menjadi seorang raksasa yang angker dan menggeram-berang mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal bila orang tuannya ialah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tak mengakui jikalau raksasa tersebut ialah si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih kerap kali disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui buah hati dan dikasih nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan merupakan manusia. Batara Guru pun mengizinkan Batara Kala memakan manusia dengan ketetapan:
1. Ontang-anting yakni anak semata wayang atau anak yang tak mempunyai saudara.
2. Pandawa merupakan anak lima laki-laki segala atau anak lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini ialah anak dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan namun, sebab Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu ialah Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tak berhasil memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala ialah putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya yaitu Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memperhatikan menawannya sang surya di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, saat itu Batara Guru melihat kecantikan yang amat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan melihat betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh hembusan angina, hasrat Batara Guru semakin memuncak. Saat itu, timbul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, keinginan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak sesuai dilakukan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akibatnya berubah menjadi seorang raksasa yang menakutkan dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal sekiranya orang tuannya ialah Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tak mengakui jika raksasa hal yang demikian ialah si kecilnya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih acap kali disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui anak dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan ialah manusia. Batara Guru malahan memperbolehkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yakni si kecil semata wayang atau si kecil yang tidak mempunyai saudara.
2. Pandawa yaitu si kecil lima laki-laki seluruh atau anak lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini adalah si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berkeinginan memakan Pandawa. Akan melainkan, sebab Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yakni satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Indramayu, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala adalah putra Matahari Hyang Manikmaya yang tak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, dikala Batara Guru dan istrinya yaitu Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang indahnya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, ketika itu Batara Guru memandang kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh hembusan angina, asa Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, timbul lah cita-cita Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, kemauan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak pantas dilakukan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tidak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab kemauannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang seram dan menggeram-marah mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pertanda dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengetahui sekiranya orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui jikalau raksasa tersebut yakni buah hatinya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya yakni Dewi Uma atau lebih sering kali disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui anak dan diberi nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan merupakan manusia. Batara Guru bahkan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yakni anak semata wayang atau buah hati yang tak memiliki saudara.
2. Pandawa adalah anak lima laki-laki seluruh atau si kecil lima perempuan segala.
3. Kedhana kedhini yakni buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Maka, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berkeinginan memakan Pandawa. Akan tetapi, sebab Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala senantiasa tidak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang bisa menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur Mengerti Siapa Batara Kala

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Nagan Raya, Aceh Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala ialah putra Sang Hyang Manikmaya yang tak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, dikala Batara Guru dan istrinya yaitu Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memperhatikan indahnya matahari di atas lautan. Ketika matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, ketika itu Batara Guru mengamati kecantikan yang amat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan melihat betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh hembusan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, muncul lah cita-cita Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan namun, harapan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak sesuai dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Sebab keinginannya tidak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi walhasil berubah menjadi seorang raksasa yang angker dan menggeram-murka mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal kalau orang tuannya adalah Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tak mengakui seandainya raksasa hal yang demikian ialah si kecilnya. Batara Guru kuatir akan kerusakan yang ditimbulkan oleh raksasa tersebut dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih sering disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui si kecil dan diberikan nama Batara Kala dan diberi kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan ialah manusia. Batara Guru pun memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yaitu anak semata wayang atau buah hati yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa ialah si kecil lima laki-laki semua atau buah hati lima perempuan semua.
3. Kedhana kedhini ialah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala sepatutnya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang umumnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala senantiasa berkeinginan memakan Pandawa. Akan namun, karena Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu yakni Sri Batara Kresna, karenanya Batara Kala selalu tak berhasil memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara Mengerti Siapa Batara Kala

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala ialah putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, saat Batara Guru dan istrinya yakni Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil memandang indahnya sang surya di atas lautan. Saat matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Matahari Dewi, dikala itu Batara Guru mengamati kecantikan yang sungguh-sungguh memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memandang betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru semakin memuncak. Ketika itu, muncul lah hasrat Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, kemauan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tidak layak dilakukan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi kesudahannya berubah menjadi seorang raksasa yang menyeramkan dan menggeram-berang mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas petunjuk dari Batara Brama dan Batara Wisnu, dia mengenal seandainya orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tidak mengakui bila raksasa tersebut ialah si kecilnya. Batara Guru kuatir akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui si kecil dan dikasih nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala minta makanan yakni manusia. Batara Guru malahan membiarkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting adalah buah hati semata wayang atau buah hati yang tidak mempunyai saudara.
2. Pandawa merupakan si kecil lima laki-laki semua atau si kecil lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini yaitu si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala semestinya mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu ingin memakan Pandawa. Akan namun, karena Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu merupakan Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tidak sukses memakan Pandawa. Sebab Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Depok, Jawa Barat Mengerti Siapa Batara Kala

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Mengerti Siapa Batara Kala

Berdasarkan pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Surya Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Disebutkan, ketika Batara Guru dan istrinya yaitu Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil mengamati menawannya sang surya di atas lautan. Ketika matahari menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Surya Dewi, dikala itu Batara Guru memandang kecantikan yang betul-betul memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma karena kainnya tersingkap oleh tiupan angina, impian Batara Guru kian memuncak. Saat itu, muncul lah impian Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, harapan Batara Guru tersebut ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal tersebut tidak cocok dikerjakan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak tertahan lagi dan terjatuh ke lautan. Karena kemauannya tak dituruti sang isteri, maka Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati kawasan kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi akhirnya berubah menjadi seorang raksasa yang mengerikan dan menggeram-naik pitam mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengetahui jikalau orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Awalnya Batara Guru tak mengakui seandainya raksasa tersebut yaitu anaknya. Batara Guru kuatir akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa hal yang demikian dan ibunya ialah Dewi Uma atau lebih tak jarang disebut Betari Durga. Raksasa tersebut diakui buah hati dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan adalah manusia. Batara Guru malahan memperkenankan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting adalah buah hati semata wayang atau si kecil yang tidak memiliki saudara.
2. Pandawa ialah anak lima laki-laki segala atau anak lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini yakni si kecil dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala patut mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang biasanya ditampilkan sekitar pukul 03.30 hingga 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu berharap memakan Pandawa. Akan melainkan, karena Pandawa senantiasa didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, maka Batara Kala selalu tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah Mengerti Siapa Batara Kala

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan Mengerti Siapa Batara Kala

Menurut pedalangan Jawa, Batara Kala yaitu putra Sang Hyang Manikmaya yang tidak diinginkan kelahirannya. Batara Kala tercipta dari air kama salah satu Batara Guru yang terjatuh ke lautan.

Diceritakan, ketika Batara Guru dan istrinya merupakan Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, mereka terbang diatas lautan yang luas sambil melihat cantiknya matahari di atas lautan. Ketika sang surya menyinari wajah Dewi Uma dan angin menyingkap kain Sang Dewi, saat itu Batara Guru mengamati kecantikan yang amat memancar pada diri Dewi Uma. Ditambah dengan memperhatikan betis Dewi Uma sebab kainnya tersingkap oleh tiupan angina, hasrat Batara Guru kian memuncak. Ketika itu, timbul lah asa Batara Guru untuk bersenggama dengan Dewi Uma. Akan melainkan, kemauan Batara Guru hal yang demikian ditolak oleh Dewi Uma. Bagi Dewi Uma, hal hal yang demikian tak sesuai dijalankan oleh seorang Raja Dewa. Air kama Batara Guru tak terbendung lagi dan terjatuh ke lautan. Karena keinginannya tidak dituruti sang isteri, karenanya Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi seorang denawa/raksasa. Dewi Uma lalu diusir dari kahyangan Jonggringsaloka dan menempati wilayah kahyangan Setra Gandamayit.

Air kama Batara Guru yang menetes tadi alhasil berubah menjadi seorang raksasa yang angker dan menggeram-murka mengamuk menanyakan siapa orang tuannya. Atas pedoman dari Batara Brama dan Batara Wisnu, ia mengenal bila orang tuannya merupakan Batara Guru dan Dewi Uma.

Mulanya Batara Guru tak mengakui jika raksasa tersebut ialah anaknya. Batara Guru cemas akan kerusakan yang dimunculkan oleh raksasa tersebut dan ibunya yaitu Dewi Uma atau lebih kerap disebut Betari Durga. Raksasa hal yang demikian diakui si kecil dan diberikan nama Batara Kala dan diberikan kekuasaan di kahyangan Seto Mangumeng.

Batara Kala meminta makanan merupakan manusia. Batara Guru malahan membiarkan Batara Kala memakan manusia dengan ketentuan:
1. Ontang-anting yaitu anak semata wayang atau si kecil yang tak memiliki saudara.
2. Pandawa ialah buah hati lima laki-laki semua atau anak lima perempuan seluruh.
3. Kedhana kedhini adalah buah hati dua, laki-laki den perempuan.

Karenanya, dalam kepercayaan Jawa, untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala mesti mengadakan upacara Ruwatan. Lakon seperti itu dalam pewayangan disebut Murwakala atau Ruwatan yang lazimnya ditampilkan sekitar pukul 03.30 sampai 05.00 pagi. Dalam lakon pedalangan, Batara Kala selalu mau memakan Pandawa. Akan namun, karena Pandawa selalu didekati titisan Batara Wisnu yaitu Sri Batara Kresna, maka Batara Kala senantiasa tidak sukses memakan Pandawa. Karena Batara Wisnu yaitu satu-satunya dewa yang dapat menandingi Batara Kala.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo