Mustika Batara Kala

 

BATARA KALA adalah putra yang ke-enam/putra bungsu Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, karena ia tercipta dari “kama salah” Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke dalam samodra dan menjelma menjadi bayi rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya masing-masing bernama; Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.
Bathara Kala bertempat tinggal di Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa makhluk siluman yang berkahyangan di Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut Bathara Kala memperoleh lima orang putra masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.
Bathara Kala sangat sakti sejak bayi. Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya bisa ditaklukan oleh Sanghyang Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua taringnya dipotong, yang kanan menjadi keris Kalanadah dan yang kiri menjadi keris Kaladite. Selain Sanghyang Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang dapat mengalahkan Bathara Kala.
Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu dan tak pernah mulai mengadakan persoalan ataupun peperangan. Ia kerap kali bertindak salah tetapi tidak disengaja, hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala akan membela diri dan haknya apabila diserang atau dianiaya. Membunuh makhluk lain tidak untuk kesenangan, tetapi karena kebutuhan untuk membela kehidupan. Bathara kala lazim dipergunakan sebagai lambang keangkaramurkaan.

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Batari Uma menyebut sang suami telah kehilangan sopan santun, tak ubahnya perangai raksasa. Seketika itu juga tumbuh taring pada gigi Batara Guru. Batara Guru merasa sangat marah karena malu. Ia memacu Lembu Andini dan membawa Batari Uma pulang ke Kahyangan Argadumilah.

Air mani Batara Guru yang terjatuh di laut, membuat air laut bergolak mendidih karena panas. Banyak ikan-ikan yang mati karenanya. Lambat laun, air mani itu menjadi buih yang semakin lama semakin besar, disertai api yang berkobar-kobar. Batara Guru yang telah sampai di kahyangan segera mengutus para dewa untuk mengatasi kejadian di laut tersebut. Para dewa utusan pun tiba di laut yang bergolak itu. mereka menghujani buih dengan senjata mereka, namun bukannya hancur namun malah semakin lama semakin besar dan pada akhirnya berubah menjadi raksasa. Raksasa itu mengamuk, menyerang para dewa. Para dewa tidak mampu mengalahkannya dan mereka berlari pulang meminta perlindungan kepada Batara Guru. Raksasa tadi mengejar mereka hingga tiba di Kahyangan Argadumilah. Sampailah ia dihadapan Batara Guru. Batara Guru menghadapi raksasa itu dengan tenang. Raksasa itu bertanya kepada Batara Guru yang mengaku sebagai penguasa dunia. Batara Guru memerintahkan raksasa agar menyembahnya terlebih dahulu sebelum pertanyaan dijawab. Ketika sang raksasa membungkuk menyembah, Batara Guru segera memangkas rambutnya. Terkejutlah sang raksasa dan ia menengadah, namun secepat kilat ia merasa kedua taringnya dipotong dan lidahnya mengeluarkan bisa akibat ditusuk oleh Batara Guru. Kedua taring yang terpotong itu berubah menjadi dua bilah keris, yang diberi nama Keris Kaladitya dan Keris Kalanadah.

Sang raksasa menjadi lemas tak berdaya bagaikan kehilangan daya kekuatan. Batara Guru mengakui raksasa itu adalah putranya dan diberi nama Batara Kala, karena karena ia lahir senjakala. Ia memberikan Pulau Nuswa Kambana kepada Batara Kala sebagai tempat tinggalnya. Batara Kala menurut dan pergi menuju pulau tersebut. Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru merasa malu dan meluapkan kekesalannya kepada Batari Uma. Bangkit pula amarahnya karena telah dikutuk oleh Batari Uma, sehingga ia memiliki taring. Batari Uma dihajarnya hingga menangis menjerit-jerit dengan kerasnya. Batara Guru pun menyebut istrinya bersuara seperti raksasi. Seketika itu pula Batari Uma berubah wujud menjadi raksasi. Terkejutlah Batara Guru, ia menyesal. Lalu ia berkata bahwa meski Batari Uma telah berubah wujud, ia tetap mengakui sebagai istrinya. Ia memberikan daerah Setra Gandamayit sebagai tempat tinggal Batari Uma, dan mempersilahkan istrinya itu datang ke kahyangan kapan pun ia mau. Batari Uma pun berganti nama menjadi Batari Durga dan membangun kahyangan di Setra Gandamayit yang diberi nama Kahyangan Dandang Mangore.

Sepeninggal Batari Durga, Batara Guru pergi menemui mertuanya yaitu Sodagar Umaran; untuk mencarikan isteri yang mirip dengan Batari Uma. Sodagar Umaran sangat bingung. Ia pun bersamadi mengheningkan cipta memohon petunjuk Tuhan demi memenuhi permintaan Batara Guru. Sanghyang Padawenang pun muncul untuk menolong Sodagar Umaran. Ia menciptakan seorang perempuan dari buah ranti yang tumbuh di halaman rumah Umaran. Buah tersebut menjadi seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Batari Uma. Sodagar Umaran pun berterimakasih dan memberi nama wanita itu Dewi Umaranti.

Sodagar Umaran kemudian membawa Dewi Umaranti menemui Batara Guru di Kahyangan Arga Dumilah. Batara Guru berkenan menerima Dewi Umaranti sebagai isterinya. Karena wajahnya mirip, Umaranti pun diganti namanya menjadi Batari Uma.

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kajen Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Blitar Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Tiap-tiap jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Nganjuk Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Malang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Cirebon Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Banjarnegara Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Pemalang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Magelang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Tiap-tiap jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Lebak Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Tasikmalaya Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Tiap-tiap jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Semarang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Magelang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Magelang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Bantul Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Mungkid Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Jember Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Masing-masing jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Mojokerto Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Soreang Harus Tahu Jenis Tatahan Wayang

Tatah, adalah salah satu tahapan utana atau paling penting dalam proses pembuatan Wayang Kulit. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, setidaknya ada 14 jenis macam jenis tatahan. Tiap-tiap jenis tatahan itu diperuntukkan bagi pembuatan ornamen tertentu pada bagian tubuh wayang tertentu pula.

Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Yogyakarta :

1. Tatahan bubukan
Tatahan bubukan adalah bentuk tatahan wayang kulit yang menyerupai rumah bubuk atau binatang perusak kayu yang berbentuk bulat-bulat dengan diameter sekitar 0,2 mm atau lebih.

2. Tatahan semutdulur
Tatahan semutduler bentuknya adalah persegi panjang dengan bentuk potongan (pathetan) melengkung kedalam, kemudian bentuk lubang tatahan itu disusun menyamping hingga membentuk suatu garis.

3. Tatahan Langgatan
Tatahan langgatan bentuknya seperti langgat yaitu sebuah alur yang cukup panjang dengan bagian lebar dipotong melengkung keluar. Bentuknya hampir sama dengan tatahan semutdulur tetapi lebih panjang hingga mencapai 3-5 kalinya.

4. Tatahan bubukiring
Tatahan bubukiring adalah unsur tatahan wayang kulit yang bentuknya bulat setengah lingkaran (setengah bulatan).

5. Tatahan inten-intenan
Tatahan inten-intenan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan berbagai perhiasan yang berupa intan maupun permata yang lazim digunakan oleh para raja atau tokoh yang lain.

6. Tatahan Langgatbubuk
Tatahan langgatbubuk merupakan unsur tatahan wayang kulit yang terjadi dan perpaduan antara tatahan langgatan dan bubukan, kemudian disusun menyamping secara selang seling, sehingga membentuk suatu garis.

7. Tatahan Sembuliyang
Tatahan sembuliyang adalah unsur tatahan wayang kulit yang diperuntukan dalam menggambar lipatan-lipatan kain atau draferi. Bentuk tatahannya tidak jauh berbeda dan tatahan langgatbubuk, tetapi pada bagian langgatnya dibuat meruncing.

8. Tatahan kawatan
Tatahan kawatan bentuknya berupa lubang alur yang melengkung dan dibuat berulang-ulang disusun berjajar menyamping, sehingga membentuk keratan-keratan kulit yang kecil seperti kawat.

9. Tatahan seritan (tatahan rambut)
Tatahan seritan adalah unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan rambut dari tokoh-tokoh wayang.

10. Tatahan patran
Tatahan patran merupakan unsur tatahan wayang kulit yang menggambarkan dedaunan.

11. Tatahan Semen dan motif kain kampuh
Tatahan semen adalah unsur tatahan semen dalam wayang kulit digunakan untuk menggambarkan motif-motif kain dari kampuh atau dodot yang dikenakan oleh tokoh-tokoh wayang, sehingga bentuknya sangat bervariasi.

12. Tatahan Srunen
Tatahan srunen merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi untuk menggambarkan berbagai jenis bunga.

13. Tatahan Wajikan
Tatahan wajikan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang berfungsi sebagai pelengkap dari jenis tatahan inten-intenan.

14. Tatahan mas-masan
Tatahan mas-masan merupakan unsur tatahan wayang kulit yang digunakan untuk menggambarkan perhiasan dari emas.

Tatahan peraga Wayang Kulit Purwa dianggap baik dan berhasil jika memenuhi syarat tertentu, yang disingkat dengan akronim Mawo Serekuh, yakni Mapan, Wijang, Semu, Resik dan Kukuh. Selain syarat tersebut, ada juga yang memberi syarat hampir sama yakni, Padang, Wijang, Ngukel, Semu dan Wulet.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo