Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Buru, Maluku Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima ialah putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu tampak seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya seperti itu tajam, malah lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara semacam itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang menonjol umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima menonjol demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, adakalanya semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, padahal tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi semestinya langsung dipisahkan, ari-ari yang wajib lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malahan Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu sepatutnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Si sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang wajib menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak demikian itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar malah apabila tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan sombong.

Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa melaksanakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai absensi Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Kuasa, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, hakekatnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh barokah maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasihat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Ilahi yang Agung.

Dalam kisah ini malahan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam-macam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat dipandang oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak semacam itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, kalau belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menakutkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu demikian itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang sepatutnya seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat energi dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikendalikan Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diwujudkan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan lapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malah memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai berjenis-jenis pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Sorong, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, merupakan ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara nampak demikian itu besar. Jalannya bahkan kepayahan, kadang kala mesti di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas terlihat seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang kalau diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya yakni ari-ari yang demikian itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib seketika dipisahkan, ari-ari yang semestinya langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu seharusnya bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pertanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malah kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai pedoman atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah seperti itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang seharusnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang bahkan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata betul-betul mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang semacam itu pendiam, tak semacam itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar mulut.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan sepatutnya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dipegang Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, jika lerengnya dijadikan terusan seketika ke Samudra. Melainkan Drona sebetulnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diarahkan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa naik pitam terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang semacam itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan besar kepala, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang seperti itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

3 garwane werkudara, abimanyu iku satriya ing, adine werkudara jenenge, aji aji anoman, aji aji nakula lan sadewa,

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara yakni putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima semacam itu mematikan dan benar-benar ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, adakalanya mesti di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila dipandang seksama, bungkus itu terbukti merupakan ari-ari yang semacam itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi patut lantas dipisahkan, ari-ari yang patut langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Pun Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu wajib bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar semacam itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata sungguh-sungguh mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu trampil berkata. Kata-kata yang keluar bahkan jika tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan pongah.

Tetapi jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar seputar kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang secara khusus bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Yang, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima lewat Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya dijadikan terusan lantas ke Samudra. Melainkan Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan pongah, wajah yang sebetulnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat semacam itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, seandainya belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang semacam itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

 

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar lazim. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang nampak lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas nampak seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti yaitu ari-ari yang semacam itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib langsung dipisahkan, ari-ari yang semestinya lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malahan tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma malah membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengatur tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malahan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, ideal hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang sepatutnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak seperti itu terampil berkata. Kata-kata yang keluar malah sekiranya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan tinggi hati.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang terpenting bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan patut pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan kemauan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa diterapkan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima via Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, sekiranya lerengnya diciptakan terusan segera ke Samudra. Melainkan Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan berlapang dada meniru instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan mendapatkan memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi nasehat untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Maha yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa berang terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang hakekatnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan tinggi hati, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang kala tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat demikian itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menggunakan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang semacam itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang demikian itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, adalah ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu menonjol seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang terbukti seperti itu tajam, malah lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara demikian itu mematikan dan betul-betul ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan awam dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima nampak semacam itu besar. Jalannya malahan kepayahan, sekali-sekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meski tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang apabila dilihat seksama, bungkus itu terbukti ialah ari-ari yang seperti itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi patut seketika dipisahkan, ari-ari yang patut seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malahan Kunti sang ibu malah tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma bahkan membawa bayi itu, dan berupaya minta tanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengontrol tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, seperti itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar seperti itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma bahkan melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malah kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang melekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda si kecil resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Kecil sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang wajib menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang malah yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengibuli. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak semacam itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar bahkan jika tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan sombong.

Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, sesungguhnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan mesti pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malahan meniru kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula diatur Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Bima untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan kemauan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya dihasilkan terusan lantas ke Samudra. Tetapi Drona sebetulnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Bima yang memang sedari permulaan tulus meniru instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu bahkan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, terbukti dituntun untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang si kecil yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa naik pitam terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai beraneka pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang hakekatnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Bima mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang demikian itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak demikian itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan tinggi hati, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, adakalanya tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Bima yang dapat memandang kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang demikian itu menakutkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Wujud fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, ialah ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu kelihatan seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, pun lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Werkudara seperti itu mematikan dan amat ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan umum dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima terlihat semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, sesekali semestinya di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, meskipun tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang sekiranya diperhatikan seksama, bungkus itu terbukti ialah ari-ari yang demikian itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi mesti seketika dipisahkan, ari-ari yang wajib langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar lazim besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu patut bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta tanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengontrol tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Namun dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar seperti itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma bahkan melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malahan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang patut menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, melainkan wajah itu memang tidak dapat mengibuli. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak demikian itu pintar berkata. Kata-kata yang keluar malah sekiranya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan besar kepala.

Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Kuasa, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar umum tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan wajib pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikontrol Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan keinginan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima via Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, sekiranya lerengnya diciptakan terusan seketika ke Samudra. Namun Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan berlapang dada mencontoh instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu bahkan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, terbukti dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Sebab seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini bahkan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang si kecil yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa berang terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa mesti mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami segala pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan jumawa, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang kala tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah demikian itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat demikian itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menerapkan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum mengaplikasikan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang demikian itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

aji aji nakula sadewa, aji aji raden janaka, aji aji raden nakula, aji aji raden werkudara, aji aji werkudara,

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten gorontalo Utara, Gorontalo Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

 

Calon Anggota DPR RI Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara yaitu putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, ialah ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu tampak seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi umum, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malah hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, pun lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima seperti itu mematikan dan amat ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar lazim. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang nampak awam dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara menonjol semacam itu besar. Jalannya malah kepayahan, adakalanya seharusnya di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu menonjol sehat, meskipun tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas kelihatan seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang jikalau diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya ialah ari-ari yang seperti itu kuat merekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi mesti lantas dipisahkan, ari-ari yang mesti langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar umum besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya merekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu sepatutnya bagaimana, karenanya Bisma bahkan membawa bayi itu, dan berupaya minta pedoman Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalutkan itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, semacam itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai petunjuk atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Kecil sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak seperti itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malah yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengibuli. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang semacam itu pendiam, tak demikian itu terampil berkata. Kata-kata yang keluar malahan seandainya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan jumawa.

Namun jangan salah, dalam membisu Bratasena, hakekatnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa menjalankan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terutamanya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Ilahi, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar awam tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan seharusnya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malah mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula diatur Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, namun terikat dengan Kurawa, memerintahkan Bima untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus segera menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima melewati Drona, sebab tugas itu amat membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, apabila lerengnya dijadikan terusan segera ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Bima yang memang sedari permulaan berlapang dada mencontoh instruksi Drona dengan kemauan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu bahkan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi arahan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya demikian itu misterius bernama Dewa Ruci, Werkudara mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Maha yang Agung.

Dalam kisah ini malah, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Werkudara yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa sepatutnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai pelbagai pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memperhatikan hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Bima yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan sombong, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah seperti itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Werkudara dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi mengerjakan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, jika belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Werkudara yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang demikian itu menyeramkan dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Caleg Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Meniru Werkudara Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, yakni ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi lazim, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, pun lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima semacam itu mematikan dan sungguh-sungguh ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Bima ini juga luar lazim. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang kelihatan lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima terlihat demikian itu besar. Jalannya malahan kepayahan, kadang-kadang mesti di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Seluruh orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, sedangkan tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalut, yang jikalau dilihat seksama, bungkus itu rupanya ialah ari-ari yang demikian itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi sepatutnya langsung dipisahkan, ari-ari yang seharusnya langsung ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan kondisi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Saat Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma malahan membawa bayi itu, dan berupaya minta tanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah membatasi tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Melainkan dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar demikian itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma bahkan melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan saat mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang semestinya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura ketika perang Baratayudha. Tidak ada seorang bahkan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengibuli. Jayadrata sungguh-sungguh mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang seperti itu pendiam, tak seperti itu pintar berkata. Kata-kata yang keluar malah sekiranya tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan arogan.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sesungguhnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa mengerjakan pencarian dalam semua kehidupannya. Pencarian yang terpenting bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa segala saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar awam tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan wajib pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malahan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dikontrol Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Werkudara untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diaplikasikan menjadi daratan. Dalam tugas itu, sesungguhnya Kurawa bermaksud mempedaya Werkudara melewati Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dilaksanakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, kalau lerengnya diciptakan terusan lantas ke Samudra. Melainkan Drona hakekatnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Bima yang memang sedari permulaan tulus meniru instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu bahkan memperoleh memberi manfaat maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Bima yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, rupanya diberi arahan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar umum untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Yang yang Agung.

Dalam kisah ini malahan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang buah hati yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa berang terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa seharusnya mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Werkudara yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai bermacam pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman seputar kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang hakekatnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Bima tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan arogan, wajah yang hakekatnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sesekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Werkudara yang telah demikian itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi menjalankan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, apabila belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Werkudara? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Bima yang dapat mengamati kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Bima yang demikian itu seram ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu semacam itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, segala dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo

Dalang Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Tokoh Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kota Blitar, Jawa Timur Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Bima ialah putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Werkudara, yang saat kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, adalah ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu tampak seperti kuku yang menyembul. Dalam situasi umum, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Werkudara dapat membikin kuku itu keluar memanjang, malahan hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya semacam itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima demikian itu mematikan dan benar-benar ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar umum. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang terlihat lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Werkudara terlihat seperti itu besar. Jalannya malahan kepayahan, kadang-kadang sepatutnya di tatih oleh para dayang. Dan dikala sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu nampak sehat, meskipun tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas menonjol seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang sekiranya dilihat seksama, bungkus itu terbukti ialah ari-ari yang semacam itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang saat itu, bahwa ari-ari jabang bayi wajib lantas dipisahkan, ari-ari yang wajib seketika ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu malahan tidak tahu. Sekaligus tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Rupanya tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat melekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu mesti bagaimana, karenanya Bisma bahkan membawa bayi itu, dan berupaya minta tanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengendalikan tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Tetapi dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan rupanya bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar semacam itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malah melanjutkan perjalanannya untuk mengerjakan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat kekuatan dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma malahan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian dikasih nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa terbukti ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah demikian itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Buah sang resi Sapwani, yang dikasih nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak demikian itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang patut menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malahan yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat mengelabui. Jayadrata amat mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar malahan kalau tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan pongah.

Melainkan jangan salah, dalam membisu Bratasena, sebetulnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa melaksanakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang khususnya bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Ilahi, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekalian dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, saat Samiaji keok bermain dadu, dan wajib pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta bahkan mencontoh kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekaligus kemudian membuatnya mendapatkan kuasa atas negri Jodipati, yang semula diatur Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekaligus kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, melainkan terikat dengan Kurawa, memerintahkan Bima untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus seketika menuju negri Samudra, dengan keinginan trek sungai di sebelah selatan terusan bisa dipakai menjadi daratan. Dalam tugas itu, sebetulnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima via Drona, sebab tugas itu sungguh-sungguh membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dijalankan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, seandainya lerengnya diciptakan terusan lantas ke Samudra. Tetapi Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Bima. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan tulus mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu malahan memperoleh barokah maka. Kisah yang kemudian ditiru dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, terbukti dinasihati untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar awam untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya semacam itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Maha yang Agung.

Dalam kisah ini malahan, Werkudara sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang si kecil yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa geram terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa patut mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Bima masih juga mencapai beraneka pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekalian membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan buah hatinya Gatotkaca, saat raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sebetulnya terjadi pada jiwa dan pikiran si kecilnya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Bima bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat memandang hal-hal yang cuma dapat diamati oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan tinggi hati, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, sekali-sekali tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah semacam itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat seperti itu beringas meneguk darah Dursasana dikala perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau saat Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan mengaplikasikan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, sekiranya belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang demikian itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Bima yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang seperti itu angker ketika Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Werkudara yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo