Ketua PRSSNI 2015-2019 Ki Rohmad Hadiwijoyo Meminta Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi Meniru Bima Dalam Mencari Sang Pencipta

Werkudara merupakan putra kedua Pandu. Sekalian menjadi kerabat kedua keluarga Pandawa. Format fisiknya istimewa, sebab mempunyai tubuh tambun besar. Badannya dua kali besar rata-rata bangsa manusia dewasa. Sorot matanya tajam, tangannya kokoh kuat. Tak banyak bicara.

Ada yang istimewa dari Bima, yang dikala kecil hingga memasuki dewasa dijuluki Bratasena ini, adalah ada semacam tulang menyembul diantara ruas ibu jari dan jari telunjuknya, di kedua tangannya. Tulang yang kemudian banyak orang menyebutnya dengan nama kuku Pancanaka. Sebab sekilas, tulang itu terlihat seperti kuku yang menyembul. Dalam kondisi awam, kuku ini cuma menyembul sedikit dari tangannya. Sementara pada posisi bertempur, Bima dapat membikin kuku itu keluar memanjang, pun hingga sepanjang lengan! Kuku yang rupanya demikian itu tajam, malahan lebih tajam dari sebilah belati. Sehingga membikin tinju Bima seperti itu mematikan dan amat ditakuti musuh-musuhnya. Sebab kecuali bisa memukul juga bisa merobek apa saja yang ditinjunya.

Kelahiran Bratasena alias Werkudara ini juga luar awam. Kunti, sang ibu, tak seperti kelahiran putra pertamanya, Samiaji, yang nampak lazim dan wajar seperti persalinan kebanyakan orang. Perut Kunti memasuki kelahiran Bima kelihatan semacam itu besar. Jalannya malahan kepayahan, sesekali sepatutnya di tatih oleh para dayang. Dan saat sang bayi lahir, rasa takjub itu seolah seperti menjadi. Segala orang kaget, sebab bayi yang keluar beberapa tubuhnya, diselimuti ari-ari tebal, kenyal dan kuat. Sang bayi besar itu kelihatan sehat, padahal tidak ada tangis mengiringi kelahirannya. Lahir dengan sorot mata yang telah lebar dan tajam. Sekilas nampak seperti sosok bayi besar yang terbalutkan, yang sekiranya diperhatikan seksama, bungkus itu rupanya merupakan ari-ari yang seperti itu kuat melekat di tubuh bayi besar dan seperti tidak mungkin untuk dilepaskan.

Telah menjadi adat dunia wayang dikala itu, bahwa ari-ari jabang bayi seharusnya langsung dipisahkan, ari-ari yang semestinya lantas ditanam atau dilarung di laut. Tidak ada yang mengenal kelahiran bayi besar dengan situasi terselimuti selubung ari-ari yang seperti tidak bisa dilepaskan ini. Malah Kunti sang ibu bahkan tidak tahu. Sekalian tahu cuma sang ayah, Pandu, dan Bisma, sesepuh Hastinapura.

Dikala Kunti masih dalam upaya penyembuhan sesudah sulit payah melahirkan jabang bayi yang luar awam besar, Bisma yang dimintai bantu Pandu, membawa bayi besar itu untuk memisahkan ari-ari yang sepertinya melekat kuat di tubuh jabang bayi, yang seolah membungkus beberapa tubuhnya. Terbukti tak gampang, memisahkannya. Ari-ari itu seperti kuat merekat membungkus perut bayi besar itu. Tidak tahu patut bagaimana, karenanya Bisma bahkan membawa bayi itu, dan berupaya minta pertanda Abiyasa, ayah Pandu. Seorang resi berwawasan luas yang pernah mengontrol tampuk Hastinapura. Dengan menaiki gajah besar, gajah negri Hastinapura, bernama Sena, Bisma membawa bayi terbalut itu menuju ke selatan untuk mencari Abiyasa.

Tetapi dalam perjalanan, Gajah Sena tanpa sengaja membanting bayi itu, dan terbukti bantingan belalai Gajah Sena, demikian itu saja seperti dengan gampang melepas selubung ari-ari itu, yang kemudian berserakan di atas rerumputan. Sementara sang bayi berbadan besar, konsisten membisu. Napas dan degup jantungnya terdengar seperti itu kuat, dari lahir, bayi itu seperti tidak pernah menangis. Karenanya Bisma malahan melanjutkan perjalanannya untuk melakukan adat, dimana Bisma memilih untuk melarung ari-ari yang sudah dikumpulkan itu. Ari-ari yang kemudian dibungkus dan dibuatkan kotak kayu kecil, dan dilarung di lautan barat tenaga dunia wayang. Lautan yang menghadap daratan kawasan Jasirah Banakeling di sisi barat dunia wayang. Bisma bahkan kembali ke negri Hastinapura membawa bayi yang besar yang konsisten cuma membisu, dengan pandangan mata tajam. Bayi yang kemudian diberikan nama Bratasena, sebagai tanda atas kejadian sang bayi yang diselamatkan Gajah Sena dari ari-ari yang merekat.

Dikisahkan bahwa rupanya ari-ari itu terdampar di seberang lautan di pantai jasirah Banakeling. Pantai yang masih menjadi kawasan negri Sindu. Sebagian hari ari-ari didalam kotak itu ada di tepian pantai itu. Tiba-tiba, pas hari ketujuh, bunyi tangis bayi pecah semacam itu keras di pantai itu. Bunyi tangis bayi yang berasal dari dalam kotak. Ya! Atas kuasa Sang Pencipta, kumpulan ari-ari pembungkus bayi Bratasena, itu tumbuh menjadi sosok bayi imut. Bayi menangis yang ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Resi Sapwani, yang sedang mencari ilham layaknya seorang resi dengan menelusuri pinggir pantai negri Banakeling, tempat padepokan bernama Kalingga. Sang bayi yang kemudian dipelihara oleh resi Sapwani, tumbuh besar menjadi remaja. Resi Sapwani yang kebetulan juga penasehat agung raja kerajaan Sindu di jasirah Banakeling itu. Sang raja Sinduraja, yang sama sekali tak mempunyai putra untuk mewarisi tahta kerajaan Sindu. Dan dikala mangkat, karenanya atas kesepakatan para sesepuh, sang muda buah hati resi Sapwani lah yang kemudian diangkat menjadi raja disana. Juga atas persetujuan sang patih bernama Jayadrata. Hati sang resi Sapwani, yang diberikan nama Arya Tirtanata. Tirtanata yang kemudian dikisahkan menimba ilmu kepemimpinan hingga ke Hastinapura, menimba ilmu terhadap Pandu. Dengan menyaru nama sebagai Jayadrata, nama patihnya, supaya tak semacam itu menurunkan wibawa negri Sindu, yang masih mempunyai raja yang seharusnya menimba ilmu ke negri seberang. Jayadrata atau Arya Tirtanata yang menjadi andalan pasukan Hastinapura dikala perang Baratayudha. Tidak ada seorang malah yang tahu bahwa ia masih kerabat perwujudan dari ari-ari pembungkus kelahiran Bratasena, cuma tubuhnya lebih kecil, tetapi wajah itu memang tidak dapat membohongi. Jayadrata benar-benar mirip dengan Bratasena.

Sementara Bratasena tumbuh dewasa dengan tubuh yang juga kian besar, dua kali rata-rata orang seusianya. Bratasena yang demikian itu pendiam, tak seperti itu piawai berkata. Kata-kata yang keluar malah jikalau tidak terbiasa berkomunikasi dengannya, akan terdengar kasar dan arogan.

Tetapi jangan salah, dalam membisu Bratasena, sesungguhnya ia senantiasa belajar perihal kehidupan. Ia senantiasa melaksanakan pencarian dalam segala kehidupannya. Pencarian yang terlebih bermula dari keresahannya, kepada arti kehidupan dan memaknai ketidakhadiran Sang Pencipta.

Dalam kisah Bale Sagalagala, ditengah lautan api itu Bratasena, dengan nalurinya membawa seluruh saudaranya beserta sang ibu, Dewi Kunti, keluar dari kobaran api, dan menelusuri lorong-lorong gelap menuju dasar Bumi. Naluri dan kepasrahan diri dalam mencari Maha, membuatnya hingga di negri Dasar Bumi, dan dijodohkan dengan putri penguasa Dasar Bumi. Putri bernama Nagagini. Sekaligus dari perkawinan itu melahirkan putra luar lazim tanpa tanding bernama Antareja.

Dalam kisah Babad Alas Mretani, dikala Samiaji keok bermain dadu, dan semestinya pergi dari Hastinapura, dan menuju hutan Wanamarta, Bratasena yang dengan tekun memaknai jalan takdir dari Sang Pencipta malahan meniru kemana kakaknya pergi di hutan Wanamarta. Sekalian kemudian membuatnya memperoleh kuasa atas negri Jodipati, yang semula dibatasi Adipati bangsa jin bernama Dandunwacana. Sekalian dari kisah itu, ia dijodohkan oleh bangsa dewa, dengan seorang putri bangsa raksasa, bernama Arimbi. Sekalian kemudian melahirkan seorang patriot bernama Gatotkaca.

Dalam lakon Yasa Kali Serayu dikisahkan bagaimana, dalam rangka berusaha mempedaya Pandawa, Drona yang sejatinya cinta Pandawa, tetapi terikat dengan Kurawa, memerintahkan Bima untuk membikin terusan sungai Serayu, sehingga bisa tembus lantas menuju negri Samudra, dengan keinginan jalanan sungai di sebelah selatan terusan bisa diaplikasikan menjadi daratan. Dalam tugas itu, hakekatnya Kurawa bermaksud mempedaya Bima lewat Drona, sebab tugas itu benar-benar membahayakan. Tugas yang hampir mustahil dikerjakan sebab resiko terseret banjir bandang sungai Serayu, jikalau lerengnya dihasilkan terusan seketika ke Samudra. Namun Drona sesungguhnya secara membisu-membisu justru memberi ilmu dan pelajaran terhadap Werkudara. Sedang Werkudara yang memang sedari permulaan lapang dada mencontoh instruksi Drona dengan keinginan bisa memenuhi dahaga pencariannya kepada Sang Pencipta, itu bahkan mendapatkan barokah maka. Kisah yang kemudian dicontoh dengan lakon Dewa Ruci, dimana Werkudara yang terseret air pasang hingga ke dasar Samodra, terbukti diberi pengarahan untuk mencapai sebuah perjalanan batin yang luar lazim untuk menemui… komponen terjauh dari dirinya sendiri! Karena seorang bangsa dewa yang keberadaannya seperti itu misterius bernama Dewa Ruci, Bima mencapai perjalanan menjelang jiwa, hati dan pikirannya sendiri, demi memahami dirinya sendiri, sebagai jalan pencariannya terhadap Kuasa yang Agung.

Dalam kisah ini malahan, Bima sementara waktu hidup di negri Samudra, dan dijodohkan dengan putri angkat Batara Baruna, Dewi Urangayu. Perkawinan mereka melahirkan seorang si kecil yang juga mencapai jalan kehidupan sufi, bernama Antasena.

Bima yang sempat merasa murka terhadap sang kakak, Yudhistira, sebab untuk kedua kalinya Pandawa patut mengalami masa pembuangan, mencapai perjalanannya sendiri di negri Wirata. Perjalanan yang membawanya kembali menyatu dan menjadi komponen dari rakyat kebanyakan. Badan Bima yang besar, kemudian berprofesi sebagai seorang jagal di pinggiran negri Wirata. Dan menyaru dengan nama Bilawa. Kisah yang ditulis dalam lakon Jagal Bilawa.

Sepulang dari negri Wirata, Werkudara masih juga mencapai pelbagai pengembaraan demi memahami kehidupan di dunia wayang. Sekaligus membikin ia hingga terhadap pemahaman perihal kehidupan dan kematian yang diluar pemikiran manusia rata-rata. kian membuatnya tidak banyak bicara. Ia menyelami seluruh pemahamannya, ..cuma untuk dirinya. Pengembaraannya ke bekas negri Gilingwesi yang binasa ditangan si kecilnya Gatotkaca, dikala raja negri itu mengancam kedaulatan negri kahyangan, dalam kisah Tuhuwasesa. Mengembaraan, yang membikin hatinya mulai dapat paham apa yang sesungguhnya terjadi pada jiwa dan pikiran buah hatinya, Gatotkaca. Juga kisah lakon Wahyu Hidayat, yang bertutur bagaimana Werkudara bertapa pada posisi berdiri, dan membikin ia mulai dapat mengamati hal-hal yang cuma dapat diperhatikan oleh bangsa dewa. Dalam kisah ini pula, Werkudara mengetahui kian dekat seorang resi Hanoman.

Werkudara yang dalam diamnya sudah menyusuri perjalanan batin yang seperti itu panjang menuju pemahaman akan Sang Pencipta, dalam kisah-kisah yang ada, memang tak seperti itu gampang untuk memahami watak dan pendiriannya. Sebab memang Werkudara tak banyak bicara. Ia tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya, pendapatnya. Wajahnya terkesan takabur, wajah yang sesungguhnya mengisyaratkan sebagai sosok yang senantiasa berupaya berdaya upaya.

Perjalanan batin yang hingga menyusuri kedalaman hatinya itu, kadang-kadang tak gampang untuk dapat dipahami oleh kita yang memahami dunia secara rata-rata. Bagaimana Bima yang telah demikian itu dalam pengertiannya akan hidup dan kehidupan, dapat demikian itu beringas meneguk darah Dursasana saat perang Baratayudha, dan membawa beberapa darah itu terhadap kakak ipar yang dicintainya demi sumpah Drupadi, yang tak akan menggelung rambut panjangnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana, semenjak momen dadu kedua, dimana Drupadi dilecehkan oleh Dursasana. Atau dikala Bima dengan dinginnya, seolah tanpa perasaan dan hati mengkuliti Sangkuni dalam gerimis hujan, demi melakukan sumpah ibu yang dicintainya, Dewi Kunti, yang tidak akan menggunakan kebaya semenjak momen kurang didik Sangkuni kepadanya, jika belum menerapkan kebaya yang terbuat dari kulit tubuh Sangkuni.

Sadiskah Bima? Perjalanannya mencari Sang Pencipta memang sudah hingga terhadap sebuah pemahaman yang dapat meletakkan jarak yang seperti itu tipis antara membunuh dan melapangkan jalan kematian seseorang. Bima yang dapat memperhatikan kehidupan dalam kematian, dan matinya seseorang dalam wadag hidupnya. Werkudara yang demikian itu angker dikala Baratayudha, demi tugasnya melapangkan jalan kematian orang-orang yang mencapai kesesatan di kehidupan dunia wayang. Bima yang pada perang itu seperti itu berlumuran darah, sebab pemahamannya akan kehidupan dan kematian sebagai sebuah kesatuan, jasad dan debu tanah sebagai kesatuan, kehancuran dan kejayaan sebagai sebuah kesatuan, seluruh dalam genggaman Sang Pencipta.

Salam,

Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo